Roy Marten, Pesonanya Membius Kaum Hawa
Profil
Written by Safari Sidakaton  
Saturday, 30 April 2011

Kepopulerannya menggerakkan keinginannya meminta honor tinggi; tak dinyana tuntutan Rp 5 juta menjadi Rp 7 juta!

Foto: IstimewaFoto: Istimewa

NAMA Roy Marten, nampaknya belum mampu dihapuskan peminat film Indonesia. Tak hanya bagi mereka yang pernah menyaksikan masa jayanya sebagai aktor di era tahun 70 hingga 80-an, tapi juga hingga kini meski usianya tak lagi muda. Bahkan, dia telah menjadi seorang opa.

Roy Marten dan Yenny Rachman dalam 'Kabut Sutra Ungu' (Foto: Istimewa)Roy Marten dan Yenny Rachman dalam 'Kabut Sutra Ungu' (Foto: Istimewa)Kharisma seorang Roy Marten, agaknya sulit terhapus begitu saja di benak penggemar maupun penonton film Indonesia. Terlebih dengan puluhan film yang ia perankan dan tak sedikit dari film-filmnya itu memberi warna bagi perfilman Indonesia. Mulai dari Bobby tahun 1974 hingga Selimut Berdarah tahun 2010. Tak heran pula kalau akhirnya lelaki kelahiran Salatiga, 1 Maret 1952 ini pernah mendapat honor tertinggi diantara jajaran artis film saat itu, bersama dengan Yenny Rachman, Doris Callebout, Yati Octavia, dan Robby Sugara yang kemudian dikenal sebagai The Big Five.

Siang itu, TNOL mencoba menyambangi rumahnya yang luas di kawasan Komplek Kodam, Jakarta Timur. Seperti beberapa tahun lalu, Roy Marten tetap tak berubah. Banyak omong, agak nyeleneh, terkadang mencampuradukan pembicaraan masalah film dengan politik, dan sebagainya. Lelaki yang kini memasuki usia 59 tahun ini juga masih menyisakan ketampanannya.

Mengenakan kemeja biru lengan pendek, Roy yang baru saja mandi terlihat sangat segar.  Keakraban mengalir begitu cepat saat ia mengurai tentang masa jayanya sebagai artis dan kondisi perfilman saat itu, kini, dan akan datang, "Persoalan perfilman nasional dari masa ke masa tetap sama, yakni adanya keputusan politik dari pemerintah. Ketika ada keputusan politik dari pemerintah untuk membela maka film nasional pun selalu booming. Namun ketika pemerintah mengendurkan dukungannya maka film nasional pun jatuh," ujar Roy.

Foto: NovriyadiFoto: NovriyadiKatanya pula, dukungan pemerintah untuk kebangkitan film nasional pernah dilakukan pada era aktor Sophan Sophiaan. Saat itu pemerintah memberi kredit lunak agar produksi film nasional bisa bangkit. Tidak heran kala itu banyak orang yang memproduksi film sehingga jumlah film nasional berlimpah.

Foto: IstimewaFoto: IstimewaSayangnya hal tersebut tidak berlangsung lama karena kredit lunak tersebut banyak dimanfaatkan produser untuk keperluan di luar film seperti membeli rumah dan mobil sehingga film nasional pun kembali terpuruk.

Honor Lima Juta

Karier keartisannya dimulai saat menjadi peragawan di Salatiga dimana ia berhasil memenangkan King Boutique di Jawa Tengah; setelahnya barulah ia hijrah ke Jakarta mengadu nasib di dunia entertainment. Terlahir dengan nama Wicaksono, anak ketiga dari enam bersaudara pasangan Salam dan Nora ini selanjutnya menekuni dunia film dengan film pertama Bobby tahun 1974.

Selanjutnya, Roy bermain di film Rahasia Gadis, Cintaku di Kampus Biru, Kenangan Desember, Sesuatu yang Indah, Tinggal Bersama, Badai Pasti Berlalu, Kembang-Kembang Plastik, Aula Cinta, Akibat Pergaulan Bebas, Pengalaman Pertama, Secerah Senyum, Kekasihku, Christina, Kugapai Cintamu, Guna-Guna Istri Muda, Jangan Menangis Mama, Roda-Roda Gila, Rahasia Perkawinan, Si Genit Poppy, Laki-laki Binal, Akibat Godaan, Napas Perempuan, Pembalasan Guna-Guna Istri Muda, Musim Bercinta, Dewi Malam, Ombaknya Laut Mabuknya Cinta, Antara Dia dan Aku, Kabut Sutra Ungu, Romantika Remaja, dan Kecupan Pertama.

Selain itu, Roy bermain pula di Remaja Idaman, Wanita Segala Zaman, Ali Topan Turun ke Jalan, Bayang-Bayang Kelabu, Bukan Sandiwara, Permainan Bulan Desember, Beningnya Hati Seorang Gadis, Di sini Cinta Pertama Kali Bersemi, Tiga Dara Mencari Cinta, Lembah Duka, Fajar Yang Kelabu, Bila Hati Wanita Menjerit, Gadis Marathon, Bawalah Aku Pergi, Pasukan Berani Mati, Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsidi, Musang Berjanggut, Rahasia Buronan, Budak Nafsu, Wolter Monginsidi, Kontraktor, hingga Kerikil-kerikil Tajam.

Foto: IstimewaFoto: IstimewaRoy juga bermain di film Hatiku Bukan Pualam, Hell Raiders, Maju dan Racun, Boleh Rujuk Asal,Tinggal Sesaat Lagi,Takdir Marina, Gema Hati Bernyanyi, Langit Takkan Runtuh, American Hunter, Pemburu Berdarah Dingin, Biarkan Aku Cemburu, Suami, Nyoman Cinta Merah Putih, Jeram Cinta, Pertempuran segitiga, Tripple Cross, Angel Of Fury, Mengejar Mas Mas, dan Selimut Berdarah.

Foto: IstimewaFoto: IstimewaKepopupelarannya membuat Roy mengajukan kenaikan honornya. Saat itu sekitar tahun 1978, Roy membuat 'gebrakan' yang cukup mencengangkan. Roy yang honornya Rp 2 juta, mendadak minta dinaikkan menjadi Rp 5 juta. Tak cuma Roy yang menuntut, tapi dia mengajak empat rekan artis lainnya yang juga berjaya saat itu yakni Doris Callebout, Yenny Rachman, Yati Octavia dan Robby Sugara yang kemudian dikenal sebagai The Big Five. “Pada awalnya empat rekan saya ini sempat menyangsikan ide saya ini dan dianggap sangat berlebihan,” jelas Roy.

Ternyata ide tersebut tercium oleh wartawan entertain, SK Martha. Dan, ia pun mengulas masalah honor artis ini di medianya. Alhasil bayaran mereka pun tidak hanya Rp 5 juta seperti yang mereka minta tapi justru ada produser yang menawarnya hingga mencapai Rp 7 juta. Bahkan pada tahun 1980-an honor yang mereka terima mencapai Rp 40 juta. Sungguh angka yang fantastis saat itu!

“Bayaran itu senilai satu BMW Seri 5 yang paling baru. Kalau sekarang kira-kira nilainya Rp 800 juta,” ujar Roy.

Bersanding dengan Yenny Rachman

Foto: IstimewaFoto: IstimewaBoleh dibilang, kehadiran Roy Marten di layar lebar selalu dinantikan banyak penonton film Indonesia. Entah apapun filmnya dan bagaimanapun ceritanya, yang penting kalau sudah melihat Roy Marten beraksi, rasanya rindu itupun langsung terobati. Sungguh dahsyat magnet seorang Roy Marten! Ternyata, magnet itupun belum sirna hingga kini, terbukti saat Roy harus masuk penjara hingga dua kali karena kasus narkoba, penggemarnya tetap setia dan seperti memaklumi apa yang telah dilakukannya!

Umumnya, era tahun 70-an hingga 80-an, seorang aktor maupun aktris memiliki pasangan. Jika Rano Karno selalu berpasangan dengan Yessy Gusman, maka Roy Marten kerap bersanding dengan Yenny Rachman. Dan, mereka berdua ternyata merupakan pasangan paling sukses di perfilman Indonesia saat itu.

Foto: IstimewaFoto: IstimewaKurang lebih 16 judul film telah mereka mainkan bersama dan sebagian besar mencapai box office. Dua film yang paling fenomenal, Kabut Sutra Ungu (1979) yang akhirnya dinobatkan sebagai film terlaris di Jakarta tahun 1980-an dengan jumlah penonton sebanyak 488.865 orang (data Perfin). Tak cuma itu saja, film ini juga meraih Piala Antemas untuk kategori Film Terlaris pada FFI 1980.  Selain itu, mereka juga bermain di Akibat Pergaulan Bebas (1977) yang juga meraih Film Terlaris I di Jakarta tahun 1978 dengan 311.286 penonton (data Perfin).

Saat ditanya, sebenarnya film apa yang disukai Roy dari beberapa film yang pernah dimainkannya, Roy langsung menjawab, Cintaku di Kampus Biru! Di film ini Roy memang tidak bermain dengan Yenny Rachman melainkan dengan Rae Sita.

“Film inilah yang menaikan saya dari aktor kelas tiga menjadi aktor kelas satu!” tegas Roy. Jujur Roy sangat menyukai film ini karena jalan ceritanya sangat menarik yakni tentang kehidupan dunia kampus. Film ini diangkat dari novel terlaris saat itu dengan judul sama, Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar.

Film Laris dari Novel Laris

Foto: KapanLagi.comFoto: KapanLagi.comSaat ini ayah dari 6 anak yakni Monik, Allien, Galih, Gading, Merari dan Mahesa buah dari dua perkawinannya yakni dengan Farida Sabtijastuti dan Anna Maria, sedang mendapat tawaran main film dari Wulan Guritno. Film tersebut merupakan garapan bersama lima sutradara. Rencananya akan mulai syuting Mei tahun ini. Dalam film tersebut Roy Marten berperan sebagai orang yang kalah dan sedih.

Foto: IstimewaFoto: IstimewaTernyata usia tak membuatnya tersisihkan dari dunia akting, terbukti Roy masih terus menerima tawaran main di beberapa film. Ini makin membuktikan, kehadiran Roy dalam kancah perfilman nasional masih tetap diperhitungkan.

Bicara tentang dunia perfilman saat ini, Roy berujar bahwa buruknya film nasional saat ini karena pendidikan yang belum memadai dari para sineas. Sementara di era Sophan Sophiaan hingga dirinya, semua berlatar belakang pendidikan film luar negeri. “Jadi tanpa pendidikan tidak mungkin tiba-tiba menciptakan film. Jadi harus sekolah,” paparnya.

Selain sineasnya berpendidikan luar negeri, sambung Roy, film yang dibuat pada saat itu juga berdasarkan novel yang sedang laris atau diminati masyarakat. Contohnya Cintaku di Kampus Biru, Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi, Badai Pasti Berlalu dan Ali Topan. Novel yang beredar saat  itu sangat konstekstual dan sudah teruji di pasaran sehingga ketika difilmkan akan laris. “Sekarang kita kekurangan penulis novel yang filmis,” jelas Roy. Roy bersyukur Laskar Pelangi hadir dan berhasil diangkat ke layar lebar dengan baik.

Nah, tentang lesunya film Indonesia, punya tanggapan Mas? “Lesunya film nasional akibat dari tidak adanya gedung bioskop. Padahal pada dulu di setiap kota kecamatan terdapat gedung biokop yang memutar film nasional. Selain itu, runtuhnya film nasional juga disebabkan sineas yang menggunakan bahasa Inggris dalam judulnya. Namun dari semua itu yang paling berperan terhadap runtuhnya film nasional adalah televisi. “Jepang dan Jerman industri perfilmannya juga hancur karena peranan televisi karena film bisa ditonton gratis!” tegas Roy. (FGD)

 

Add comment


Security code
Refresh